Kalender
Jadwal Festival 2017
Galery
KPDT Expo
Wisata Budaya

WISATA BUDAYA DI PULAU WANGI-WANGI

 BENTENG TINDOI

Benteng Tindoi  merupakan salah satu objek wisata budayaberada di Kecamatan Wangi-Wangi, berjarak ± 5 Km, dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda  empat selama ±15 menit dari pusat kota.

Letak benteng di atas Gunung Tindoi. Bahan pembuatan benteng  Tindoi  terbuat dari batu-batu karang. Kontruksi benteng membentuk lingkaran dengan dua lapis pertahanan yang memiliki dua pintu rahasia di sebelah utara, dan bentuk pintu terbuka, yaitu belahan batu yang membentuk tanjakan.  

 BENTENG LIYA dan MESJID KERATON LIYA

Benteng Liya terletak di Desa Liya Togo Kec. Wangi-Wangi Selatan. Benteng Liya terdiri dari empat lapis dengan 12 Lawa (Pintu), 12 lawa tersebut merupakan pintu keluar yang digunakan masyarakat kerajaan untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya.

Benteng Liya dibangun 1538 M atau Abad ke 15 pada masa Syekh Abdul Wahid di atas bukit, jarak benteng dari pinggir laut adalah sekitar 1,5 km. Dengan bentuk jalan yang menyerupai angka 9. Dari benteng terlihat jelas wilayah laut utara, timur dan selatan. Di dalam benteng terdapat Masjid Keraton Liya yang berjarak 8 Km atau 15 menit dari Ibukota Kabupaten, dapat ditempuh menggunakan alat transportasi roda dua dan empat.

 BENTENG MANDATI TONGA

Benteng Mandati Tonga terletak di Desa Mandati Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Benteng tersebut berbentuk persegi panjang dengan luas  ± 1 hektar. Pagar tertinggi benteng sekitar 7 meter terletak di bagian barat dan selatan. Pada pagar benteng terdapat lubang bekas penyimpan meriam. Di bagian timur benteng terdapat makam La Melangka Tu’u dan di sebelah utara terdapat makam orang Belanda. Jarak benteng dari ibukota kabupaten ± 7 km, dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat melalui jalan setapak, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh ± 1 km.

 BENTENG TOGO MOLENGO

Benteng Togo Molengo terletak di Puncak Gunung Pulau Kapota,  dapat ditempuh ± 20 menit menggunakan perahu tradisional dari Wangi-Wangi,  lalu dengan kendaraan roda dua ±10 menit. Di sekitar benteng terdapat Hutan Bambu dan Perkebunan Penduduk seperti Kakao, Mete, Ubi Kayu, dan lainnya.  Dari puncak Benteng, para wisatwan dapat melihat pemandangan Pantai seputar pulau Kapota.

 MERCUSUAR

Mercusuar ini dibangun 1901 pada masa penjajahan Belanda. Lokasi objek wisata ini ada di Desa Waha Kecamatan Wangi-Wangi, dengan jarak ± 8 Km atau dari Ibukota Kabupaten dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua ± 15 menit.

Tinggi Mercusuar ini ± 30 meter dari atas tanah dan 150 meter dari permukaan laut. Dari atas puncak Mercusuar kita dapat melihat Pemandangan Alam Matahari Terbit (Sunrise), pesona pantai Waha, perkampungan penduduka Waha, perkebunan dan beberapa resort seperti Patuno Beach Resort.


WISATA BUDAYA DI PULAU KALEDUPA

Pulau Kaledupa memiliki pesona budaya yang  tetap terjaga dan diletarikan oleh masyarakat setempat. Pesona budaya ini merupakan objek wisata yang menarik, karena masih terdapat nilai-nilai historis dan keunikkanya. Berikut objek wisata budaya yang ada di Pulau Kaledupa.

a. Tari Tradisional Kaledupa

TARI LARIANGI

Tari Lariangi (antarafoto.com)

Tari Lariangi merupakan tari tradisional Kecamatan Kaledupa yang lahir pada tahun 1634 dikala Raja Buton yang pertama berkuasa yaitu WA KAKA. Tarian ini merupakan tari persembahan dari Kaledupa untuk dimainkan di Istana Raja dalam wujud gerakan dan nyanyian dengan fungsi utamanya adalah se bagai penerangan. Pakaian nya terdiri dari kain, manik -manik sebagai bahan aksesoris, serta hiasan sanggul, logam berukir untuk gelang, kalung, dan hiasan sarung.

 TARI HEBALIA

Tari Hebalia merupakan tari tradisional Kecamatan Kaledu pa, diciptakan oleh para dukun pada zaman dahulu, tujuannya adalah untuk mengusir roh-roh jahat yang membawa sial pada satu keluaga atau kampung.

 TARI SOMBO BUNGKALE

Tari Sombo Bungkale merupakan tari tradisional Kecamatan Kaledupa Selatan. Tarian ini dilakoni oleh penari gadis cantik sebanyak 12 orang. ditampilkan sesudah selesai melakukan hajatan. Tari Sombo Bungkale ini menggambarkan proses sombo atau pingit, tersebut dianggap telah suci dan di beri gelar ”kalambe” atau wanita dewasa.

TARI HONARI

Tari Honari merupakan tari tradisional kecamatan Kaledupa Selatan. Tari Honari merupakan jenis tarian pergaulan yang ditarikan oleh empat orang gadis dan empat orang pemuda yang membawa selendang sambil menyanyikan lagu boorina ( alaaku ). Tari ini ditarikan sebagai ungkapan kegembiraan gadis-gadis setelah selesai di sombo (dipingit).

 b. Pesta Adat dan tradisi

PESTA ADAT KARIA’A

Pesta adat Karia’a merupakan tradisi khas masyarakat Kaledupa. Usungan 15 sampai 20 dalam sekali upacara. Kansodaa ini dipikul secara bersama 10 sampai dengan 12 orang dari kerabat masing - masing peserta. Mereka secara bersamaan dipikul dan diarak keliling kampung.

TRADISI ADAT PENCAK SILAT

Tradisi pencak silat adalah tradisi adat masyarakat Kaledupa. Pesta adat ini merupakan tradisi dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Event ini dilakukan setelah sholat bersama dilapangan.

 c. Situs sejarah (Makam Tua dan Benteng)

 MAKAM TUA dan KAMALI

Makam Tua dan Kamali berada di Desa Pale’a Kecamatan Kaledupa Selatan. Makam tua  ini merupakan makam yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat, karena makam ini adalah makam Bontona Kaledupa dan Haji Padha. Bontona Kaledupa merupakan orang yang memimpin pemerintahan Barata Kahedupa, yang dilantik oleh Sultan Buton untuk menjaga wilayah Kesultanan Buton dari serangan  dari arah bagian timur Pulau Buton. Sedangkan Haji Padha adalah orang yang pertama menyiarkan agama Islam di Pulau Kaledupa.

Di Makam Tua ini terdapat Rumah Adat Kamali. Rumah Adat tersebut memiliki luas ± 3 x 4 meter, terbuat dari kayu dengan dinding dari bambu. Rumah Adat berbentuk panggung, menggunakan atap daun rumbia. Di bagian atas atap terdapat kayu yang menggambarkan kepala naga. Menurut cerita masyarakat, dahulu Kamali di huni oleh lafero (ular besar)

 BENTENG OLLO Dan MESJID TUA

Benteng Ollo dan Mesjid Tua merupakan situs sejarah peninggalan kebudayaan masyarakat di Pulau Kaledupa yang hingga kini tetap terjaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Benteng Ollo dan Mesjid Tua terdapat di Desa Buranga, Kecamatan Kaledupa. Benteng ini mempunyai sembilan lawa, konon, setiap lawa dijaga oleh prajurit dan orang yang bertugas mendoakan masyarakat di lawa.  

 Di dalam Benteng Ollo terdapat Mesjid Tua yang berukuran 6,5 x 7 meter. Menurut sejarah bangu nan mesjid merupakan pengejawantahan dari badan seorang ibu, oleh karena itu, mesjid ini sebenarnya bukan untuk tempat shalat  bagi kaum perempuan.

Di tangga Mesjid Tua terdapat batu yang disimpan, batu tersebut diangga sebagai sebagai bagian dari badan seorang perempuan. Penempatan tempat air wudhu, bentuk daun pintu, lubang di dalam dan mimbar khatib serta jendela semua menggambarkan keadaan badan perempuan.

Jarak Benteng Ollo dari ibukota Kecamatan Kaledupa ± 4 km, dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat selama ±15 menit.

 BENTENG LA DONDA

Benteng La Donda merupakan salah satu situs sejarah peninggalan kebudayan masyarakat Kaldupa. Benteng tersebut  berada di Desa Tampara, Kecamatan Kaledupa Selatan. Dahulu Benteng Ladonda tidak digunakan sebagai benteng pertahanan, namun sebagai tempat pemukiman masyarakat.

Letak  benteng ini berada di atas bukit, dan  jaraknya dari pinggir laut ± 1,5 km. Dari atas Benteng La Donda para Wisatawan dapat menyaksikan pemandangan alam Pulau Kaledupa di bagian selatan.

 

 WISATA BUDAYA DI PULAU TOMIA

Selain memiliki objek wisata alam, Pulau Tomia juga mempunyai wisata budaya, yang tetap terjaga dan dilestarikan oleh masyarakat Tomia. Wisata budaya yang ada di sana merupakan peninggalan sejarah kebudayaan masyarakat Tomia yang memiliki nilai historis dan keunikan. Berikut objek wisata budaya yang ada di Pulau Tomia.

BENTENG PATUA

Benteng Patua adalah salah satu situs sejarah kebudayaan masyarakat Tomia. Benteng tersebut berada di Desa Patua II Kecamatan Tomia, dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat ± 15 Menit dari ibukota kecamatan. Benteng Patua berada di atas perbukitan.

Benteng Patua menghadap ke arah Pulau Lente’a di Sebelah Timur Pulau Kaledupa. Benteng Patua mempunyai lima Lawa (Pintu), ada Hanta Baruga(tempat pertemuan), Makam Tua berbentuk segi empat, Badili (meriam) dan beberapa makam lainnya.

Di dalam benteng juga ditumbuhi beberapa pohon seperti beringin, kaktus,  dan tumbuhan lainnya.

Dahulu benteng ini digunakan sebagai tempat pertahanan dan pemukiman penduduk. Dari atas benteng para wisatawan dapat menyaksikan pemandangan alam dan tampak jelas Pulau Kaledupa dari atas benteng.

 BENTENG SUO-SUO

Benteng Suo-Suo berada di Desa Kahianga Kec. Tomia timur, berjarak ± 3 km dari ibukota kecamatan, dapat ditempuh dengan dari ibukota kecamatan. Di bagian luar benteng terdapat makam Ince Sulaiman, salah seorang penyiar agama islam di Pulau Tomia. Sedangkan di bagian dalam terdapat bekas masjid. Benteng terletak di atas gunung Pulau Tomia. Menurut sejarah benteng di bangun untuk tempat pertahanan dari serangan musuh yang datang dari Tobelo dan Ternate.

 MESJID TUA ONEMAY

Mesjid Tua Onemay merupakan berada di Kelurahan Onemay Kecamatan Tomia. Bentuk konstruksi mesjid ini menyerupai Mesjid Keraton Buton. Keberadaan Mesjid Tua ini menunjukkan bukti kebesaran penyiaran agama Islam di daerah tersebut.

 PESTA ADAT SAFARA

Pesta Adat Safara adalah Pesta adat masyarakat Tomia yang dilakukan pada setiap Bulan Safar. Penyelenggaran ritual adat tersebut bertujuan untuk mengeratkan tali silaturahmi dan gotong royong serta ungkapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan rejekiNya. Ritual ini ditandai dengan acara mandi bersama seluruh warga dengan saling menyiram satu sama lain dengan diawali dengan doa oleh sesepuh adat.

 TRADISI BOSE – BOSE

Tradisi Bose – Bose adalah tradisi yang dilakukan dengan menghiasi perahu dengan hiasan berwarna-warni, dan dimuati sajian masakan tradisional,  seperti Liwo, lalu diarak mengelilingi pantai dari Dermaga Patipelong menuju Dermaga Usuku sampai ke Selat One Mobaa, sambil menabuh gendang. Pesta adat ini dilaksanakan bertujuan agar semua dosa dapat hanyut bersama riaknya air laut.

 Tari Tradisional Tomia

 TARI MBORIRA

Tari Mborira adalah tarian yang berasal dari Tomia. Tari ini diadakan, jika ada perantau yang baru saja tiba di kampung halaman. Diperankan oleh 6 orang penari yang akan dipilih salah satunya sebagai pendamping dari perantau tersebut.

TARI SAJO WOWINE

Tari Sajo Wowine adalah tarian yang berasal dari Tomia.

Dahulu kala tari ini diperagakan para gadis yang tinggal di Benteng Patua pada upacara adat. Diperankan oleh 10 orang gadis dan 2 orang pemuda yang akan ngiri sebagai ungkapan kegembiraan dengan penampilan para penari.

TARI SAJO MOANE

Tari Sajo Moane adalah Tarian Sakral yang dimaikan oleh kaum laki – laki. Melambangkan kesiapan prajurit perang untuk mengahadapi peperangan. Tarian ini dimainkan oleh 20 orang prajurit.

TARI SARIDE

Tari Saride merupakan tarian tradisional yang berarti persatuan dan kebersamaan dalam menyelesaikan suatu kegiatan yang menyangkut kepentingan umum. Tari Saride sebagai lambang poasa-asa atau pohamba-hamba, sebagai semboyan dari masyarakat suku Tomia. Tari saride mengungkapkan rasa syukur masyarakat setelah menyelesaikan pekerjaan dengan sukses. Pada masa sekarang tarian Saride dipersembahkan untuk menghibur tamu-tamu terhormat


WISATA BUDAYA DAN TARI TRADISIONAL PULAU BINONGKO

BENTENG PALAHIDU

 Benteng Palahidu merupakan salah satu peninggalan sejarah masyarakat Binongko yang berada di Desa Palahidu Kecamatan Binongko. Benteng Palahidu terletak di atas tebing bagian utara pinggir pantai Pulau Binongko.  Konstruksi benteng terbuat dari batu dan bentuknya segiempat, di dalamnya terdapat bekas mesjid yang tinggal tiang-tiang dan makam tua yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat dan masih di ziarahi. Tidak jauh dari benteng terdapat Pantai Palahidu yang memiliki panorama yang indah. Dari atas benteng para wisatawan dapat menyaksikan pemandangan alam dan panoram laut yang terbentang luas.

 Lokasi benteng berjarak ± 2,5 km  dari ibu kota kecamatan Rukuwa, dapat ditempuh dengan kendaran roda dua maupun roda empat.

 BENTENG WALI

 Benteng Wali adalah salah situs sejarah peninggalan masyarakat Togo Binongko. Letak benteng berada di Desa Wali Kecamatan Togo Binongko, dengan jarak ± 9 Km, dapat ditempuh dengan kenderaan roda dua dan roda empat,karena berada di pemukiman penduduk.

 Benteng Wali memiliki panjang 70 depa, dengan bentuk segiempat dan di dalamnya terdapat Kamali yang masih ditinggali oleh keturanan kerajaan. Di dalam benteng tersebut juga terdapat makam tua, tak jauh dari benteng ada kuburan tua yang disebut kuburan kota.

Masyarakat Wali masih tetap menjaga dan melestarikan benteng tersebut, sehingga bagi para wisatawan dapat menyaksikan situs sejarah kebudayaan masyarakat Wali.

 Tari Balumpa

Tari Balumpa adalah salah satu tari tradisional yang berasal dari Pulau Binongko. Tari ini dimainkan oleh 8 orang gadis cantik jelita dengan diiringi dengan nyanyin khas daerah yang dikenal dengan Kabanti dan  alunan musik gambus khas Binongko.

 Tari ini melambangkan kelembutan dan keramahtamahan masyarakat Binongko. Tari ini biasa dimainkan untuk menghibur para wisatawan, pada acara besar di Kabupaten Wakatobi.

 

Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi
Jln. Samburaka No. 4 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi Telp. / Fax : 0404 - 21011 Email : humas.wakatobikab@gmail.com
Sukses Update Data